Kepala Sekolah Baru Lantik OSIS

Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 1 Rawalo, periode 2019-2020, sudah bisa menjalankan program kerja, setelah dilantik oleh Kepala Sekolah (Kasek), Wasono Ardi Saputro, M.Pd., Senin (9/9/2019) pagi.

Acara pelantikan itu dilakukan disela – sela upacara penaikan bendera merah putih yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin.

   

Pelantikan pengurus diawali dengan pembacaan Surat Keptusan (SK) yang dikeluarkan oleh Kasek, lalu dilanjutkan serah terima bendera organisasi dari pengurus lama kepada pengurus baru.

Seperti diketahui Firgiawan Listanto, terpilih menjadi ketua OSIS periode 2019-2020, setelah mengantongi 375 suara pada saat dilakukan pemilihan, beberapa waktu lalu.

Sedangkan untuk posisi wakil ketua OSIS yang pemilihannya juga dilakukan secara bersamaan saat pemilihan ketua, ditempati M. Nur Fauzan dengan meraih 272 suara.

Kepada pengurus OSIS yang baru dilantik, Kasek, Wasono Ardi Saputro, M.Pd, mengucapkan selamat menjalankan tugas dan dipesankan agar para pengurus OSIS harus menjadi contoh bagi siswa-siswi lainnya.

“Pengurus OSIS harus ikut membantu program sekolah atau visi – misi sekolah. Disamping itu, pengurus OSIS juga harus menjadi contoh bagi pelajar lainnnya. Jangan karena jadi pengurus organisasi jadi malas belajar, namun sebaliiknya harus tetap giat belajar dan menjadi contoh,”pesan Ardi. Dia juga berterimakasih kepada para pengurus OSIS sebelumnya yang telah melaksnakan tugas dan tanggungjawab dengan baik.

Terpisah, Endah Firdijani, S.Si, selaku Waka Kesiswaan SMA Negeri 1 Rawalo, berharap agar pengurus OSIS yang baru dilantik tersebut lebih baik lagi dari pengurus sebelumnya.

“Pengurus OSIS sekarang bisa melanjutkan program unggulan yang sudah ada dan mari kita sukseskan visi misi sekolah,”ujarnya.

Semangat Pahlawan di Dadaku

Hari Pahlawan ke-73 tahun 2018 diperingati di SMA Negeri 1 Rawalo dengan melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera. Upacara dimulai pukul 07.15 diikuti seluruh guru, karyawan, dan para peserta didik. Pengurus OSIS berbagi peran menjadi petugas upacara, mulai pengatur, pemimpin peleton, pembawa acara, pemimpin upacara, pembawa teks pancasila, pembaca teks pembukaan UUD 1945, pembaca pesan pahlawan, tim paduan suara dan dirigen, serta pembaca doa.

Bertindak sebagai Pembina upacara yaitu Bpk. Agus Sulistiyono, S.Pd., staf kesiswaan. Dalam amanatnya, beliau mengajak kepada seluruh peserta khususnya peserta didik untuk bersyukur. “Kita tidak perlu susah payah mengangkat senjata, kita tidak dihantui rasa takut lagi akan serangan penjajah. Hari ini kita bisa leluasa melakukan aktivitas, kita bisa merasakan kenyamanan dalam belajar, semua atas perjuangan para pendahulu yang rela berkorban disertai doa tiada henti. Pejuang kita meyakini bahwa Alloh akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu mau terus berusaha mengubah nasibnya sendiri.”

Selain itu, beliau juga menyampaikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Bahwa kemerdekaan bangsa kita merupakan buah perjuangan para pendahulu kita. Meski Indonesia sudah merdeka ternyata bangsa lain masih ingin menguasai Indonesia. Maka terjadilah pertempuran di beberapa wilayah sebagai upaya mempertahankan. Antara lain Bandung Lautan Api, Pertempuran 5 hari di Semarang, dan yang paling besar adalah Perjuangan Arek-Arek Surabaya.

Beliau pun menegaskan bahwa perjuangan tak kenal lelah, pantang menyerah, tanpa pamrih, rela berkorban harta benda jiwa raga, disertai kekuatan doa untuk satu Indonesia tetap merdeka, terbebas dari cengkeraman penjajah.  Cita-cita menuju keadilan sosial, kemakmuran yang dibalut dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa.

Di sela-sela menyampaikan amanat, pak Agus menegur salah satu peserta yang terlihat kurang tertib. Itu dilakukan sebagai upaya mengingatkan terkait menanamkan karakter disiplin dan menghargai orang lain. Bahwa upacara juga merupakan pembelajaran menumbuhkan rasa cinta tanah air, tanggung jawab, dan karakter positif lainnya.

Sebelumnya juga dibacakan pesan-pesan pahlawan oleh petugas. Antara lain pesan dari pahlawan nasional Nyi Ageng Serang, panglima Besar Jenderal Soedirman, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Pattimura, Bung Tomo, dan Ki Hajar Dewantara. Pesan-pesan tersebut hendaknya menjadi motivasi dan dapat dilaksanakan oleh seluruh peserta, khususnya generasi muda. Mengingat generasi muda sekaranglah yang akan menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia kelak. Apalagi memasuki usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia pada 2045.

Upacara Pengibaran Bendera yang digelar di lapangan utama tersebut berlangsung lancar  dalam suasana pagi yang cerah menyejukkan. Upacara diakhiri dengan pembacaan doa. Dilanjutkan dengan presensi kehadiran peserta. Dengan pelaksanaan upacara memperingati hari Pahlawan, kita tanamkan nilai-nilai kepahlawanan dalam diri. Nyalakan terus semangat Pahlawan di dada kita. (10/11/18/ER)

IMPLEMENTASI KULTUR SMANRA

Peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya pada aspek proses pembelajaran, kepemimpinan,  dan manajemen.  Satu aspek yang juga mempengaruhi  keberhasilan pendidikan di sekolah adalah kultur sekolah. Kultur sekolah yang baik diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang tidak hanya memiliki nilai akademik tetapi juga bernilai afektif.

Istilah kultur dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kultur atau budaya (cultural) diartikan sebagai pikiran, adat istiadat, sesuatu yang sudah berkembang, sesuatu yang menjadi kebiasaan.  Dalam pemakaian sehari-hari, disinonimkan dengan pengertian tradisi (tradition). Dalam hal ini, tradisi diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dan kebiasaan masyarakat yang tampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut.  Berdasarkan definisi ini, suatu sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur yang disepakati dan dilaksanakan serta diyakini dapat memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, baik intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial.

SMA Negeri 1 Rawalo (Smanra) merupakan salah satu lembaga pendidikan formal tingkat pendidikan menengah yang ada di Kabupaten Banyumas. Sebagai lembaga pendidikan formal, Smanra juga memiliki peran penting dalam melahirkan generasi bangsa yang cerdas, secara intelektual, spiritual, emosional, dan sosial. Peran penting tersebut sesuai dengan visi Smanra, yaitu terwujudnya generasi CERMIN KITA (Cerdas, Mandiri, Inovatif, Kreatif, Iman dan Takwa).

Dalam mewujudkan visi sekolah tersebut perlu dilakukan berbagai upaya yang termuat dalam misi sekolah. Selain itu, juga dapat melalui pelaksanaan kultur sekolah yang meliputi budaya 6S, budaya disiplin dan kerja keras, serta budaya hidup bersih.

 1.    Budaya 6S (Syukur, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun)

Budaya santun berkaitan dengan upaya menumbuhkan sikap ramah, menghargai orang lain, dan membiasakan bertutur sopan kepada lawan bicara. Sebagaimana peribahasa “Bahasa menunjukkan bangsa” yang berarti tutur kata seseorang menunjukkan kepribadian orang tersebut. Agar berkepribadian baik, warga sekolah dituntut bertutur santun menggunakan bahasa yang baik. Selain itu, budaya santun juga diterapkan melalui 6S, yaitu Syukur, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Melalui budaya 6S ini diharapkan dapat tertanam kebiasaan bersyukur, bertutur baik, bersikap ramah, dan menghargai orang lain.

 2.    Budaya Disiplin

Kedisiplinan merupakan kunci kesuksesan. Rasanya kalimat tersebut tepat sebagai motivasi untuk menanamkan kebiasaan positif pada warga sekolah, khususnya para peserta didik. Disiplin berarti patuh pada aturan. Sejatinya, sejak manusia lahir di muka bumi ini tidak lepas dari aturan yang sudah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa. Sebagaimana peribahasa “Di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung”. Artinya bahwa di mana pun kita berada, kita diikat oleh aturan. Entah di rumah, di sekolah, di jalan raya, maupun di kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan menaati aturan di mana pun kita berada maka hidup kita akan tenang karena tidak dikejar masalah akibat melanggar aturan.

Disiplin juga dapat dikaitkan dengan kemampuan mengatur waktu. Seseorang yang pandai mengatur waktu dan menaatinya untuk melakukan hal-hal positif berarti telah merencanakan hidup sukses. Hidup di dunia yang singkat ini sangat sayang dilewatkan jika hanya untuk melakukan aktivitas tak bermakna. Jadi, manfaatkan setiap detik dalam hidup yang singkat ini dengan melakukan hal- hal bermakna agar hidup tak sia-sia.

Upaya yang dilakukan sekolah untuk menanamkan budaya disiplin di kalangan warga sekolah adalah dengan menetapkan dan memberlakukan tata tertib, baik kepada peserta didik, maupun kepada guru serta karyawan. Melalui penegakan disiplin diharapkan dapat tercipta lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mewujudkan visi sekolah dan mendukung peningkatan mutu pendidikan pada umumnya.

3.    Budaya Belajar atau Kerja Keras

Tiada keberhasilan tanpa perjuangan. Kalimat tersebut juga mengandung motivasi untuk memberikan semangat kepada warga sekolah, khususnya para peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik dimotivasi untuk terus belajar dengan giat agar dapat meraih cita-cita sesuai yang diharapkan. Untuk mengembangkan potensinya, peserta didik tidak hanya mengikuti pembelajaran intrakurikuler tetapi juga dapat mengikuti program pembelajaran ekstrakurikuler. Kegiatan ekskul yang ada di sekolah meliputi bidang olahraga, seni, akademis/leadhership.

Ekskul bidang Olahraga, meliputi : Panahan, Sepak Takraw, Bola Volli, Bola Basket, Pencak Silat, Futsal. Bidang Kesenian, meliputi : Band, Karawitan, Hadroh, Paduan Suara, Seni Tari. Sedangkan bidang Akademik – Leadhership, meliputi : Pramuka, Pecinta Alam, PMR, KIR, Bina Olimpiade Sains.

Melalui usaha gigih para peserta didik mengikuti berbagai program pembelajaran tersebut diharapkan mereka mendapatkan pengalaman belajar yang benar-benar bermakna. Pengalaman belajar disertai kerja keras ini diharapkan dapat menjadi bekal peserta didik dalam menjalani masa depan yang gemilang.

 4.    Budaya hidup bersih

Kebersihan pangkal kesehatan. Semboyan yang sering kita dengar ini tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Dengan membudayakan hidup bersih maka kita akan selalu sehat. Di dalam tubuh yang sehat juga terdapat jiwa yang kuat. Tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat menjadi modal kita beraktivitas dengan maksimal.

Hidup bersih di sekolah diterapkan dengan membentuk dan memaksimalkan piket kebersihan di setiap kelas. Selain itu,  juga melalui program kerja bakti bersama secara insidental serta lomba K5 antarkelas.

Sebagai sekolah Adiwiyata Nasional, Smanra berupaya untuk meningkatkan prestasi sebagai sekolah berbudaya lingkungan. Melalui kebiasaan hidup bersih itulah diharapkan tercipta kondisi sekolah yang nyaman sebagai tempat untuk belajar sehingga mendukung terwujudnya visi sekolah dan meningkatnya prestasi sekolah.  

Demikianlah, empat kultur sekolah yang dikembangkan di Smanra. Pengembangan kultur sekolah ini menjadi prioritas demi mewujudkan visi sekolah. Oleh karena itu, semua warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kultur sekolah yang  pada sehingga dapat mewujudkan pendidikan yang bermutu. Artinya, kultur sekolah harus menjadi komitmen bagi warga sekolah dan menjadi kepribadian sekolah. Sekolah yang berhasil membangun kultur yang baik akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, baik akademik maunpun nonakademik.

PBA, Bentuk Tunas Bangsa Berjiwa Ksatria

 

Pada 2 – 3 November 2018 telah dilaksanakan kegiatan PBA di SMA Negeri 1 Rawalo (Smanra). Apa itu PBA? PBA atau Pencarian Badge Ambalan merupakan salah satu program kegiatan kepramukaan, tindak lanjut dari PTA (Penerimaan Tamu Ambalan) yang telah dilaksanakan pada awal tahun pelajaran. PTA merupakan transisi dari pasukan penggalang menuju ambalan penegak. Sedangkan PBA merupakan proses penerimaan andik dari tamu ambalan menjadi anggota ambalan.

PBA Smanra dimaksudkan untuk mengenalkan ambalan Soedirman – Nyi Ageng Serang kepada adik-adik penegak kelas X. Bertindak selaku sangga kerja pada PBA kali ini adalah Dewan ambalan Soedirman (Gudep 15.3292) dan Nyi Ageng Serang (Gudep 15.3293) yang baru dilantik pada 15 Oktober 2018. Ambalan Soedirman dipimpin oleh Zhicko sebagai Pradana Putra – Kurniadi sebagai Pemangku Adat, sedangkan ambalan Nyi Ageng Serang dipimpin oleh Erma sebagai Pradana Putri – Sendrina sebagai pemangku adat.  

Di bawah bimbingan Kak Agus Sulistiyono, S.Pd., Kak Haryanto, S.Pd. sebagai pembina putra dan Kak Estikaroh, S.Pd., Kak Ipit Dyarini, S.Pd., serta Kak Destiana  Fajriatun, S.Pd.I. sebagai Pembina putri, adik-adik Dewan Ambalan melakukan berbagai persiapan. Mulai dari rapat koordinasi, menyusun proposal, mendistribusikan berbagai surat, menyiapkan berbagai perlengkapan kegiatan, hingga merancang rangkaian acara seperti terlihat pada jadwal PBA.

PBA dibuka oleh Kamabigus. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan bahwa PBA merupakan proses yang harus andik ikuti untuk menjadi anggota ambalan di Smanra. Mereka yang berhasil mengikuti PBA berhak mengenakan tanda ambalan Soedirman untuk andik Putra dan tanda ambalan Nyi Ageng Serang untuk andik Putri.  Dengan dikenakannya tanda ambalan tersebut, andik akan selalu termotivasi untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Kamabigus juga menegaskan bahwa nama ambalan diambil dari nama pahlawan nasional dengan maksud agar andik meneladani sifat-sifat kepahlawanan. Soedirman dikenal sebagai pemimpin pejuang gerilya yang religius dan gigih. Sementara Nyi Ageng Serang adalah sosok pemimpin wanita pejuang yang berani dan rela berkorban demi kepentingan bangsa. Sangat tepat dengan tema PBA kali ini, yaitu “Melalui Pendidikan Kepramukaan Kita Bentuk Tunas Bangsa Berjiwa Ksatria”.

Selain itu, andik diingatkan untuk menjaga kesehatan dan menjaga barang berharga milik masing-masing. Patuhi jadwal, aturan yang telah ditetapkan, dan laksanakan ibadah sholat wajib tepat waktu, agar andik dimudahkan mengikuti kegiatan. Jaga nama baik diri dan sekolah saat melaksanakan jelajah di luar lingkungan sekolah. Walau sempat diguyur hujan, rangkaian acara dalam kegiatan PBA  tetap dilaksanakan sesuai rencana. Hujan tak menyurutkan semangat andik dalam mengikuti berbagai mata acara kegiatan. Alhamdulillah sampai dengan hari kedua kegiatan berjalan dengan tertib dan lancar.

PBA ditutup oleh Kak Haryanto selaku Kakak Pembina. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja keras dan kerja sama sangga kerja dari DA kelas XI dibantu DK kelas XII, hingga terselenggaranya PBA kali ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi atas semangat andik kelas X mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Setelah penutupan andik pulang, istirahat di rumah. Kakak Pembina juga memberikan motivasi agar sebagai Pramuka andik terus semangat. Semoga kegiatan PBA dapat menambah wawasan dan pengalaman andik, serta  membentuk karakter positif dalam diri andik. Slm Pramuka…

Ikhlas Bakti Bina Bangsa, Ber Budi Bawa Laksana, Satyaku Kudarmakan Darmaku Kubaktikan 😊