IMPLEMENTASI KULTUR SMANRA
Peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya pada aspek proses pembelajaran, kepemimpinan, dan manajemen. Satu aspek yang juga mempengaruhi keberhasilan pendidikan di sekolah adalah kultur sekolah. Kultur sekolah yang baik diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang tidak hanya memiliki nilai akademik tetapi juga bernilai afektif.
Istilah kultur dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan, dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kultur atau budaya (cultural) diartikan sebagai pikiran, adat istiadat, sesuatu yang sudah berkembang, sesuatu yang menjadi kebiasaan. Dalam pemakaian sehari-hari, disinonimkan dengan pengertian tradisi (tradition). Dalam hal ini, tradisi diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dan kebiasaan masyarakat yang tampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut. Berdasarkan definisi ini, suatu sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur yang disepakati dan dilaksanakan serta diyakini dapat memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, baik intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial.
SMA Negeri 1 Rawalo (Smanra) merupakan salah satu lembaga pendidikan formal tingkat pendidikan menengah yang ada di Kabupaten Banyumas. Sebagai lembaga pendidikan formal, Smanra juga memiliki peran penting dalam melahirkan generasi bangsa yang cerdas, secara intelektual, spiritual, emosional, dan sosial. Peran penting tersebut sesuai dengan visi Smanra, yaitu terwujudnya generasi CERMIN KITA (Cerdas, Mandiri, Inovatif, Kreatif, Iman dan Takwa).
Dalam mewujudkan visi sekolah tersebut perlu dilakukan berbagai upaya yang termuat dalam misi sekolah. Selain itu, juga dapat melalui pelaksanaan kultur sekolah yang meliputi budaya 6S, budaya disiplin dan kerja keras, serta budaya hidup bersih.
1. Budaya 6S (Syukur, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun)
Budaya santun berkaitan dengan upaya menumbuhkan sikap ramah, menghargai orang lain, dan membiasakan bertutur sopan kepada lawan bicara. Sebagaimana peribahasa “Bahasa menunjukkan bangsa” yang berarti tutur kata seseorang menunjukkan kepribadian orang tersebut. Agar berkepribadian baik, warga sekolah dituntut bertutur santun menggunakan bahasa yang baik. Selain itu, budaya santun juga diterapkan melalui 6S, yaitu Syukur, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Melalui budaya 6S ini diharapkan dapat tertanam kebiasaan bersyukur, bertutur baik, bersikap ramah, dan menghargai orang lain.
2. Budaya Disiplin
Kedisiplinan merupakan kunci kesuksesan. Rasanya kalimat tersebut tepat sebagai motivasi untuk menanamkan kebiasaan positif pada warga sekolah, khususnya para peserta didik. Disiplin berarti patuh pada aturan. Sejatinya, sejak manusia lahir di muka bumi ini tidak lepas dari aturan yang sudah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa. Sebagaimana peribahasa “Di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung”. Artinya bahwa di mana pun kita berada, kita diikat oleh aturan. Entah di rumah, di sekolah, di jalan raya, maupun di kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan menaati aturan di mana pun kita berada maka hidup kita akan tenang karena tidak dikejar masalah akibat melanggar aturan.
Disiplin juga dapat dikaitkan dengan kemampuan mengatur waktu. Seseorang yang pandai mengatur waktu dan menaatinya untuk melakukan hal-hal positif berarti telah merencanakan hidup sukses. Hidup di dunia yang singkat ini sangat sayang dilewatkan jika hanya untuk melakukan aktivitas tak bermakna. Jadi, manfaatkan setiap detik dalam hidup yang singkat ini dengan melakukan hal- hal bermakna agar hidup tak sia-sia.
Upaya yang dilakukan sekolah untuk menanamkan budaya disiplin di kalangan warga sekolah adalah dengan menetapkan dan memberlakukan tata tertib, baik kepada peserta didik, maupun kepada guru serta karyawan. Melalui penegakan disiplin diharapkan dapat tercipta lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mewujudkan visi sekolah dan mendukung peningkatan mutu pendidikan pada umumnya.
3. Budaya Belajar atau Kerja Keras
Tiada keberhasilan tanpa perjuangan. Kalimat tersebut juga mengandung motivasi untuk memberikan semangat kepada warga sekolah, khususnya para peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik dimotivasi untuk terus belajar dengan giat agar dapat meraih cita-cita sesuai yang diharapkan. Untuk mengembangkan potensinya, peserta didik tidak hanya mengikuti pembelajaran intrakurikuler tetapi juga dapat mengikuti program pembelajaran ekstrakurikuler. Kegiatan ekskul yang ada di sekolah meliputi bidang olahraga, seni, akademis/leadhership.
Ekskul bidang Olahraga, meliputi : Panahan, Sepak Takraw, Bola Volli, Bola Basket, Pencak Silat, Futsal. Bidang Kesenian, meliputi : Band, Karawitan, Hadroh, Paduan Suara, Seni Tari. Sedangkan bidang Akademik – Leadhership, meliputi : Pramuka, Pecinta Alam, PMR, KIR, Bina Olimpiade Sains.
Melalui usaha gigih para peserta didik mengikuti berbagai program pembelajaran tersebut diharapkan mereka mendapatkan pengalaman belajar yang benar-benar bermakna. Pengalaman belajar disertai kerja keras ini diharapkan dapat menjadi bekal peserta didik dalam menjalani masa depan yang gemilang.
4. Budaya hidup bersih
Kebersihan pangkal kesehatan. Semboyan yang sering kita dengar ini tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Dengan membudayakan hidup bersih maka kita akan selalu sehat. Di dalam tubuh yang sehat juga terdapat jiwa yang kuat. Tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat menjadi modal kita beraktivitas dengan maksimal.
Hidup bersih di sekolah diterapkan dengan membentuk dan memaksimalkan piket kebersihan di setiap kelas. Selain itu, juga melalui program kerja bakti bersama secara insidental serta lomba K5 antarkelas.
Sebagai sekolah Adiwiyata Nasional, Smanra berupaya untuk meningkatkan prestasi sebagai sekolah berbudaya lingkungan. Melalui kebiasaan hidup bersih itulah diharapkan tercipta kondisi sekolah yang nyaman sebagai tempat untuk belajar sehingga mendukung terwujudnya visi sekolah dan meningkatnya prestasi sekolah.
Demikianlah, empat kultur sekolah yang dikembangkan di Smanra. Pengembangan kultur sekolah ini menjadi prioritas demi mewujudkan visi sekolah. Oleh karena itu, semua warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kultur sekolah yang pada sehingga dapat mewujudkan pendidikan yang bermutu. Artinya, kultur sekolah harus menjadi komitmen bagi warga sekolah dan menjadi kepribadian sekolah. Sekolah yang berhasil membangun kultur yang baik akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, baik akademik maunpun nonakademik.