Destiana Fajriatun, S.Pd.I
SMA Negeri 1 Rawalo
Email : anailaika.df@gmail.com
ABSTRAKSI
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada muatan Al-Qur’an Hadits dipelari dengan tujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan siswa dalam bidang Al-Qur’an Hadits. Peningkatan tersebut dapat melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengamalan siswa dalam membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai bentuk implementasi dari ayat Al- Qur’an maupun hadits yang dipelajari dalam materi tertentu.
Dalam hal ini, kata tartil disusun dari kata Ratala yang berarti serasi dan indah ucapan atau kalimat yang disusun secara rapi dan diucapkan dengan baik dan benar. Membacanya secara perlahan sambil memperjelas huruf-huruf berhenti dan memulai, sehingga pembaca dan pendengarnya dapat memahami dan menghayati kandungan pesannya. (Sumardi, Tadarus Al-Qur’an, 2009: 9 ). Penulis seringkali mendapati peserta didik saat mempelajari materi PAI yang bermuatan Al-Qur’an Hadits terkait dengan penilaian keterampilan melalui membaca atau menghafal ayat dari surat tertentu pada materi di dalamnya masih belum baik dan benar sesuai tajwid. Maka penulis mengatasi hal tersebut dengan memberikan media pembelajaran berupa media cetak kartu tajwid dan media audio visual terkait contoh bacaan tartil yang baik dan benar.
I. PENDAHULUAN
Bagi guru yang mengajar peserta didik di kelas X dan XI IPS pada mata pelajaran umum yaitu PAI sering menjumpai beberapa peserta didik yang belum dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai tajwid dengan baik dan benar. Guru tersebut perlu membutuhkan kesabaran, ketekunan dan kreativitas. Apalagi SMA Negeri tersebut adalah sekolah umum bukan sekolah berbasis agama sebagaimana tempat penulis mengajar, tentu menjadi tantangan tersendiri. Sebab pada peserta didik yang belum dapat membaca tartil biasanya mereka akan menganggap mata pelajaran PAI ada materi yang memberatkan yaitu pada praktek keterampilan membaca ataupun menghafal ayat tertentu dari salah satu surat di Al-Qur’an yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Hal ini dialami penulis kurang lebih selama 7 tahun mengajar di kelas X dan XI.
Penulis mendapati beberapa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam membaca tartil. Peserta didik ini ada yang sama sekali belum dapat membaca tartil karena belum begitu memahami hukum bacaan. Bahkan beberapa peserta didik masih merasa tidak percaya diri meskipun sudah dapat membaca, dan sebagian yang lain menganggap bahwa untuk membaca atau menghafal ayat tertentu merupakan hal yang sangat memberatkan. Maka tidak salah apabila kesulitan membaca tartil karena belum dapat memahami tajwid dengan baik dan benar berakibat menghambat peserta didik dalam mempraktekkan bacaan tartil pada materi PAI muatan Al-Qur’an Hadits.
Pengalaman dalam proses pembelajaran di kelas X dan XI penulis menjumpai kurang lebih 10 peserta didik di setiap kelas yang belum memahami hukum bacaan atau tajwid pada bidang studi yang penulis ampu, sehingga mereka masih belum mampu membaca ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar. Dalam setiap kegiatan tanya jawab untuk memeriksa pemahaman peserta didik tentang hukum bacaan, beberapa anak tersebut pasif. Ketika proses pembelajaran berlangsung peserta didik ini perlu penjelasan yang memudahkan mereka memahami hukum bacaan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis melakukan kegiatan pendalaman materi setiap KBM berlangsung pada bagian materi Al-Qur’an Hadits tentang hukum bacaan tajwid dan beberapa menit sebelum KBM berlangsung peserta didik bersama untuk literasi dengan cara membaca suratan pendek bersama beberapa surat lalu membaca satu per satu sesuai urutan tempat duduk dengan cara satu anak membacakan satu ayat dan seterusnya. Hal itu dilakukan oleh penulis karena membaca Al-Qur’an menjadi sempurna bila disertai pemahaman dan pengamalan ilmu tajwid. Pengertian hukum tajwid jika dikaji dari asal-usul katanya berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata dan bentuk masdar (jawwada- yujawwidu- tajwid). Adapun makna dari kata tersebut adalah memperbaiki, memperindah, dan memperbagus. Dalam ilmu terminologi, kata tajwid memiliki pengertian sebagai berikut : “Mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) dengan memberikan hak-hak dan mustahaq dari sifat yang dimilikinya”. Dengan demikian, tajwid merupakan ilmu yang membahas ilmu yang mempelajari tentang tata cara kaidah dalam membaca Al-Qur’an. (https://kumparan.com/kabar-harian/hukum-tajwid-pengertian-jenis-dan-contohnya-1xcLJ8f61R5/1 )
Berdasarkan pengalaman pembelajaran tersebut, penulis berusaha mencari pemecahan masalah pada tahun berikutnya, karena salama mengajar penulis masih mendapati peserta didik yang belum mampu membaca Al-Qur’an secara tartil yang sesuai dengan kaidah tajwid. Selain melalui pendalaman materi, penulis menggunakan media cetak berupa kartu pelangi tajwid untuk mempermudah peserta didik menentukan hukum bacaan yang sesuai, yang dilakukan dengan strategi yang tepat dan kreatif dan juga menggunakan media audio visual dengan menampilkan contoh bacaan tartil yang baik dan benar. Penulis juga membiasakan kembali tadarus suratan pendek beberapa menit sebelum memulai pembelajaran PAI di kelas.
II. PERMASALAHAN
Berdasarkan uraian dan gambaran sebagaimana tertuang pada pendahuluan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
- Apa yang menjadi penyebab peserta didik belum mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil?
- Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan membaca tartil pada peserta didik yang sesuai dengan kaidah tajwid?
III. PEMBAHASAN
A. Penyebab Peserta Didik belum mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil
Penyebab peserta didik belum mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil dapat disebabkan karena adanya faktor internal dan eskternal.
- Faktor Internal
Faktor Internal merupakan faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal biasanya meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis. (https://brainly.co.id/tugas/2520902 ). Berikut faktor internal yang penulis temui pada peserta didik di SMAN tempat penulis mengajar :
- Adanya peserta didik yang belum mengenal ilmu tajwid. Karena banyak di antara peserta didik kelas X dan XI kurang memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh guru saat menjelaskan materi PAI muatan Al-Qur’an Hadits saat pembelajaran berlangsung.
- Rerata berasal dari lulusan sekolah dasar yang tidak berbasis agama.
- Masih banyak peserta didik yang tidak mengaji.
- Minimnya rasa semangat untuk mempelajari ilmu pengetahuan agama.
- Masih ada peserta didik yang menganggap tulisan arab itu sulit.
2. Faktor Eksternal
Menurut pendapat Rooijakkers (2000), Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar si pelajar. Hal ini dapat berupa sarana prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Penulis mengamati beberapa faktor eksternal yang ada dan dialami oleh peserta didik di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) :
- Sarana dan prasarana yang belum memadai
- Lingkungan sekitar rumah
- Orangtua dan teman sebaya
- Minimnya pembelajaran PAI di SMAN pada tiap minggunya
- Kurangnya buku atau media penunjang materi PAI pada muatan Al-Qur’an Hadits
B. Upaya meningkatkan kemampuan membaca tartil pada peserta didik yang sesuai dengan kaidah tajwid (Gusman, al-Bahtsu: Vol. 2, No. 2, Desember 2017 )
Dengan adanya permasalahan pada kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil pada peserta didik di Sekolah Menengah Atas Negeri, maka penulis mengemukakan beberapa upaya dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca tartil pada peserta didik di sekolah menengah atas ( SMAN ), sebagai berikut :
- Bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengadakan jam tambahan atau ekstrakurikuler baca tulis Al-Qur’an setelah KBM.
- Meningkatkan kompetensi guru yang berkaitan dengan baca tulis Al-Qur’an dengan pelatihan, diklat dan pembinaan.
- Menggunakan media pembelajaran yang mendukung misalnya media cetak berupa kartu tajwid dan media audio visual untuk menampilkan contoh bacaan tartil.
- Mengadakan kerjasama dengan TPA di daerah asal peserta didik masing-masing.
- Menciptakan kondisi yang baik pada waktu proses belajar mengajar dengan cara menampilkan media pembelajaran yang menarik dan kreatif.
- Melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran Al-Qur’an di SMAN
- Mengadakan kerjasama dengan orang tua peserta didik dalam memantau perkembangan kemampuan anak di rumah.
Selain dari beberapa upaya di atas, sebagai seorang guru hendaknya juga tidak boleh berhenti untuk memberikan motivasi dan arahan kepada peserta didik yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil yang sesuai kaidah tajwid. Ketika guru hendak melaksanakan penilaian pada aspek keterampilan terkait dengan mempraktekkan membaca tartil maupun hafalan, maka terlebih dulu guru harus memberikan teori tentang hukum bacaan dan menampilkan melalui media audio visual contoh membaca tartil yang baik dan benar. Selain itu, guru memberikan keleluasaan bagi peserta didik untuk menampilkan bacaan tartil sesuai dengan versi mereka masing-masing dengan demikian peserta didik tidak merasa terbebani. Guru juga menyediakan waktu untuk refleksi dan koreksi tentang membaca tartil yang sesuai kaidah tajwid dan memberikan kesempatan perbaikan penilaian keterampilan praktek membaca tartil jika peserta didik bersedia.
VI. PENUTUP
Berdasarkan dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan karya ilmiah ini sebagai berikut :
A. Kesimpulan
- Dalam pembelajaran PAI pada muatan materi Al-Qur’an Hadits terdapat tujuan pembelajaran berupa menampilkan bacaan Al-Qur’an dengan tartil sesuai kaidah tajwid.
- Beberapa peserta didik pada tiap kelas yang diampu belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai kaidah tajwid.
- Peserta didik yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil disebabkan faktor internal dan eksternal.
- Harus ada upaya dari guru agar peserta didik termotivasi dalam membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
- Guru harus mampu menjadi pendamping dan memfasilitasi peserta didik terkait dengan kebutuhannya dalam melaksanakan penilaian keterampilan praktek membaca Al-Qur’an dengan tartil yang sesuai kaidah tajwid.
B. Saran
- Guru dan orang tua hendaknya bekerja sama dalam hal belajar dan mengaji peserta didik.
- Orang tua diharapkan memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan agama Islam
- Sekolah, orang tua murid dan guru mata pelajaran hendaknya selalu menjalin kerja sama untuk menyikapi peserta didik yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil yang sesuai kaidah tajwid.
- Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri sekalipun merupakan sekolah umum diharapkan dapat terus melaksanakan fungsi mendidik berbasis agama Islam, sehingga peserta didik tidak menganggap mata pelajaran PAI muatan Al-Qur’an sebagai mata pelajaran yang tidak diperhatikan dengan baik.
- Menyediakan sarana peningkatan kualitas profesi guru, agar terus ditingkatkan sehingga dapat mengimplementasikan metode pembelajaran yang baik, kreatif dengan media yang menyenangkan, sehingga akan meningkatkan mutu pendidikan
DAFTAR PUSTAKA
Sumardi, Tadarus Al-Qur’an (The Hope The Fear), (Pesantren Ulumul Qur‟an, 2009), hlm. 9
https://kumparan.com/kabar-harian/hukum-tajwid-pengertian-jenis-dan-contohnya-1xcLJ8f61R5/1
https://brainly.co.id/tugas/2520902
Rooijakkers (2000), dalam pencarian internet “ faktor eksternal”
Jurnal oleh Gusman, al-Bahtsu: Vol. 2, No. 2, Desember 2017




















